Ramadan adalah bulan yang selalu marak.Tak hanya dipenuhi kegiatan ibadah dan orang-orang yang beramal saleh, tapi juga diramaikan oleh ceramah-ceramah keagamaan. Mulai dari“kultum” alias kuliah tujuh menit sampai yang berskala tablig akbar. Di darat maupun lewat dunia maya. Aktivitas yang melibatkan orang yang paham agama itu — biasa disebut ustadz, kiai, atau ulama – lazim disebut dakwah. Tempatnya bisa di masjid, kampus, atau studio.
Di Yogyakarta, salah satu masjid yang menyelenggarakan kegiatan dakwah di bulan Ramadan adalah Masjid Jogokaryan, yang sering dijadikan contoh ideal bagaimana rumah ibadah kaum Muslim seharusnya dikelola Tak hanya jadi tempat orang salat berjamaah, tetapi menjadi institusi untuk membangun peradaban. Salah satu acara yang cukup menyita perhatian publik, karena disebarluaskan melalui media sosial, adalah acara “Dialog Kebangsaan” yang dilangsungkan usai salat tarawih pada 27 Februari 2026. Acara dialog ini menghadirkan Prof. Mohammad Mahfud MD (Universitas Islam Indonesia/UII, Yogyakarta) Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar (Universitas Gadjah Mada/UGM, Yogyakarta) dan Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D. (Universitas Indonesia/UI, Depok, Jawa Baerat).
Yang ramai jadi perbincangan di jagat maya adalah cuplikan dari Mahfud MD. Yaitu kritiknya terhadap ulama dan ormas Islam yang hanya “diam” melihat berbagai fenomena kemungkaran di Tanah Air. Dalam dialog itu, Mahfud MD antara lai menyoroti fenomena hilangnya keberanian moral di kalangan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam besar di Indonesia. Ia memandang adanya ketimpangan fungsi yang serius, di mana ormas kini cenderung hanya menjalankan peran akomodatif dan meninggalkan fungsi kontrol sosial yang seharusnya melekat pada mereka.
Mahfud menekankan bahwa perjuangan Islam seharusnya bertumpu pada dua pilar: mengajak pada kebaikan (Amar Ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (Nahi Mungkar). Namun, realitanya pilar kedua seolah telah runtuh. Dia menyatakan:”Nah persoalannya sekarang ormas-ormas Islam itu tidak mau nahi mungkar. Setahu saya perjuangan itu kan ada dua, amar makruf (menyuruh, menasihati, kepada kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran). Ini laahi mungkar-nya ndak ada, semuanya memuji-muji. Lalu dapat tambang. Begitu. (Sementara) yang salah didiemin. Yang harus ngomong Pak Uceng (Prof. Zainal Arifin Mochtar, yang duduk disebelah Mahfud) diteror (dia). Iya kan? Ulamanya diam. Coba mana saya ingin tahu mana ulama sekarang yang nahi mungkar? Ormas? nggak ada “
Secara spesifik mantan Menko Polhukam iti menyebutkan lembaga-lembaga besar seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI yang dianggapnya telah kehilangan daya kritis. Menurutnya, suara lantang untuk meluruskan kesalahan penguasa kini justru lebih banyak terdengar dari media alternatif, bukan dari mimbar ormas resmi. “Yang banyaknya Nahi Mungkar itu malah podcast, itu Nahi Mungkar tuh. Saya ingin tahu NU, Muhammadiyah, MUI, enggak ada semuanya. Yang baik-baik kayak begini, ‘Pak sebaiknya gini pak’. Pak ini salah! Mana bilang ngatakan gitu? Sehari katakan salah, begitu dipanggil besok: ‘Benar Bapak ini’. Gak ada nahi mungkar, enggak ada lagi nahi mungkar.”
(Ulasan lengkap mengenai topik ini tersedia eksklusif di majalah kami. Dapatkan edisi cetak Nomor 16/Tahun II 2026)